Kesampaian Juga ke Prau !

Kesampaian Juga ke Prau !

Saya tiba di Basecamp Patak Banteng sekitar pukul 23.45 wib, hening rembulan sedang terang-terangnya, namun tak mampu menghalau hawa dingin di lereng Gunung Prau yang mencapai 6 derajat celcius.

Semakin larut desir angin semakin dingin, sapuan tipis melewati wajah membuat bibir mulai meretak. Jari-jari tangan terasa beku dan kaku.

Gunung Prau Dieng
Gunung Sindoro & Sumbing dari Puncak Gunung Prau 2565 mdpl, Sumber : Instagram.com

Gunung Prau adalah mutiara bagi Dataran Tinggi Dieng, pesonanya mampu menarik ribuan wisatawan atau pendaki dari berbagai penjuru negeri.

Jika cuaca sedang cerah, ada 5 gunung yang bisa kamu lihat secara langsung. Di sebelah timur, ada Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, dan Gunung Lawu. Jika kamu sejenak melihat ke arah barat, kamu bisa menatap Gunung Slamet yang gagah.

gunung-prau.jpg
Pemandangan Puncak Gunung Prau, Dok Pribadi

Jalur Pendakian   ke Puncak Gunung Prau

Ada 6 jalur pendakian untuk sampai ke puncak Gunung Prau, kamu bisa melalui jalur Wates, Dieng Wetan, Campurejo, Dieng Kulon (Dwarawati), Patak Banteng, atau via Kali Lembu.  Sebenarnya ada 8 jalur pendakian, tetapi yang dua tidak dibuka untuk umum agar ekosistem tetap terjaga dengan baik.

Dan saya memilih mendaki melalui jalur Patak Banteng, karena jalur ini katanya yang paling cepat dan mudah. Cepat membuat nafas ngos-ngosan dan mudah bikin pingsan hee..

Jalur Pendakian Gunung Prau Dieng
Jalur Pendakian Gunung Prau via Patak Banteng, Sumber : Instagram @mt.prau

Menjelang pukul 1 dini hari suasana di basecamp Patak Banteng semakin penuh dan sesak, mungkin karena ini malam minggu, tepatnya ini sudah masuk hari minggu.

Embun dingin mulai menyelimuti, wedang jahe panas pun tak terasa cukup untuk membuat hangat badan. Kami mencoba untuk tidur terlebih dahulu di dalam basecamp yang sudah penuh sesak.

Patak Banteng Dieng
Tempat Parkir di Basecamp Patak Banteng, Sumber : Dok Pribadi

Pendakian Gunung Prau
Melawan Beku, Dok Pribadi
Patak-banteng-wonosobo
Uyel-uyelan Mencari Kehangatan di Basecamp Patak Banteng, Sumber : Dok Pribadi

Ternyata Dataran Tinggi Dieng lagi di puncak hawa dinginnya! Meski belum dingin banget kata ibu penjual wedang di basecampe Patak Banteng.

Mangke nek wulan agustus enten bun upas Mas.. uatise luweh-luweh soko niki !

( Nanti kalau bulan agustus ada bun upas ; ‘embun beku‘ Mas.. lebih dingin lagi dari sekarang! )

Sunrise Camp

Pukul 02.00 Wib kami mulai menapak, butuh usaha extra keras untuk bisa sampai di Pos 1 Sikut Dewo. Hawa dingin menambah berat paru ini untuk memompa nafas, dada terasa sesak tertekan, dari otot betis sampai paha mulai terasa pegal. Sebenarnya untuk jarak tempuh dari basecamp hingga sampai Pos 1 tidak terlalu jauh, tapi karena jalurnya berupa tanjakan jadi cepat bikin lelah.

Sepanjang track menuju POS 1 panoramanya begitu indah, dari Sikut Dewo sejenak kamu bisa menyaksikan betapa indahnya kabut menyelimuti desa-desa dengan kerlap-kerlip lampunya yang apik.

Gunung-prau-patak-banteng
Puncak Gunung Prau, Photo by Instagram :  Mas Wihandono Yogo

Menapak ke POS 2 Canggal Walangan jalur bertambah berat, lebih menanjak, dan curam. Sepanjang track melewati perkebunan wortel, kubis, dan sayur-sayuran khas Dieng lainnya. Nah di dekat POS 2 ini ada warung kopi yang buka esok hari, pas track turun besok saya sempetin mampir disini.

Saran saya bawalah Tracking Pole untuk mempermudah saat mendaki.

Sholawat Tarhim sayup-sayup mulai terdengar, menandakan sebentar lagi waktu Subuh. Menuju POS 3 Cacingan, track kali ini menelusuri gelapnya hutan pinus. Senter atau penerang lainnya sangat membantu di track ini, karena sangat gelap dan banyak akar pohon besar yang menjalar.

Jalur-patak-banteng-gunung-prau
Track Menuju POS 3 Cacingan, Dok Pribadi

Dan setelah hampir 3 jam merangkak akhirnya sampai di Puncak Prau. Sesuai duga’an saya kalau di Puncak bakal penuh ramai banget. Tapi overall sangat memuaskan banget sampai di puncak.

gunung prau
Sunrise Camp, Dok Pribadi
preview
Yang di Nanti-nanti mulai nongol, Dok Pribadi
puncak-prau-dieng-jateng
Mimpi yang Terwujud, Dok Pribadi
gunung-prau-wonosobo.jpg
Setinggi apa pun kita mendaki, AYo Turun !!, Dok Pribadi

Buat saya, mendaki Gunung Prau adalah sebuah impian yang sudah di nanti lama sekali, dan ketika ini terwujud, rasanya surreal banget !

Terima Kasih sudah membaca, salam kenal semoga kita bisa bertemu di Puncak !

 

Tabik !

 

 

 

Harapan Untuk 2017

Harapan Untuk 2017

Sekarang udah 2017, makin tua aja neh hee.. well, katanya Age just a number. Ada benarnya juga. Maksudnya, nggak perlu terlalu dipikirin udah umur berapa, tapi lebih penting sudah mengisi umur dengan apa saja. Setidaknya begitu buat saya.

Lalu saya sudah mengisi umur dengan apa saja? Macam-macam. Melihat ke tahun 2016 yang baru saja berlalu, memang seru banget. Dan sekarang saatnya menuliskan apa saja yang ingin saya isikan di tahun 2017. Sebab katanya menuliskan keinginan adalah langkah awal untuk mewujudkannya. Semoga!

#1. Saya sangat bersyukur, tahun 2016 telah membawa saya ke berbagai tempat yang indah dan menakjubkan. Mudah-mudahan tahun 2017 ini saya bisa sampai ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi di Nusantara, terutama Bromo !!

cemoro-lawang

#2. One day one juz. Bismillah bisa.. pasti bisa ! Ngerasa udah setengah baya, saatnya berbenah mengumpulkan amalan-amalan untuk masa depan yang abadi.

#3. Tengah Tahun 2017 adalah hal yang sangat spesial. Perkiraan dokter arif sekitar awal Juli si kecil lahir. Buat saya cowok atau cewek gak masalah, yang penting sehat bunda & dedek bayi’nya, lucu, gemesin, n membawa kebahagian seperti kak Rara..amin.

my-fam

Buat nyambut si kecil bakal banyak banget to do list-nya. Kalo masalah ini biar emak’nya Si Rara aja yang handle 🙂

#4. Ingin Lebih Teratur & Konsisten Olah Raga. Terutama ngecilin perut hee. 2017 pengen mencoba olah raga baru selain futsal, mungkin Badminton yang paling memungkinkan.

#5. Menambah luas lahan. 2017 target nambah 1 hektar lagi untuk sawah ( meski sewa hee), mudah-mudahan Gusti Alloh maringi rejeki..amin.

#6. Beli Kamera Mirroless. Tahun ini dirasa memang sudah butuh banget kamera mirroless, terutama untuk ngeblog dan foto produk ogosbutik.com.

kamera-mirroless_

#7. Membesarkan Bisnis Ogos Boutique. Alhamdulillah ogosbutik.com sudah jalan 3 bulan. Januari ini masuk bulan ke 4. Harapan saya, 2017 bisa memberikan Omset yang luar biasa. Paling tidak bisa untung 10 juta per bulan..amin.

#8. Belajar Fb Ads. Saya berterima kasih sebesar-besarnya buat facebook karena 3 bulan terakhir ini 80% Omset saya datang dari Iklan Facebook. Awal tahun ini sudah daftar kelas bisnis untuk FB Ads mudah-mudahan Februari bisa fokus belajar & praktek.

#9. Tahun ini pengen 100% Wiraswasta. Mudah-mudahan Gusti Alloh memantapkan hati dan niat saya untuk 100% ber-wiraswasta, pagi hari ke sawah, siang ngurusin ogosbutik.com, n malemnya nulis blog.. ( indah banget rasanya hee..)

Begitulah. My wish list. What’s yours?

Sunset di Pura Luhur Uluwatu Bali

Sunset di Pura Luhur Uluwatu Bali

Senja di hari pertama saya di Bali adalah Pura Luhur Uluwatu. Banyak yang bilang Uluwatu adalah salah satu tempat terbaik di dunia untuk melihat “Sunset“.

Saya pun sangat setuju dengan pendapat itu, faktanya Uluwatu memang memiliki pesona alam yang sangat menawan untuk menyaksikan matahari terbenam.

sunset di uluwatu bali

Tahun 2015 kemarin, saya dan semua rekan kerja sekantor melancong ke Bali. Senangnya liburan dengan kantor adalah semuanya serba “Gratis“, mulai dari tiket pesawat, hotel, restoran, hingga tiket berlayar dengan Kapal Pesiar ke Nusa Penida.

Salah satu tempat yang saya kunjungi di Bali adalah Pura Luhur Uluwatu. Tempat ibadah umat Hindu di Bali ini terletak di atas anjungan batu karang yang tinggi dan terjal serta menjorok ke laut.

Tepatnya, pura suci ini terletak di Desa Pecatu Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung – Bali.

Pura Luhur Uluwatu Bali
Pura Uluwatu tampak dari atas via Skypixel.org

Desa Pecatu memiliki pesona alam yang luar biasa indah. Pesonanya bahkan mampu menarik para selebritis menggelar pernikahan di desa wisata Pecatu ini, Wedding Veneu disini keren banget.

the-edge-wedding-veneu-uluwatu
Wedding Veneu The Edge via Weddingdestinations.com

Selain wedding veneu yang keren, disini juga berdiri hotel-hotel berbintang, sebut saja hotel berkelas seperti Bulgari Hotel & Resort, Alila Vilas Uluwatu, The Istana, The Khayangan Estate dan masih banyak lagi.

Pura Luhur Uluwatu Bali

Buat saya pulau Bali itu penuh dengan mitos dan keajaiban, tak terkecuali dengan Pura Luhur Uluwatu ini.

Di Pura ini terdapat bak air yang tak pernah kering, airnya selalu terisi meski di musim kemarau. Oleh masyarakat setempat air ini di anggap suci dan keramat serta di gunakan untuk Tirta Suci ( Untuk ibadah).

Tari Kecak di Pura Luhur Uluwatu Bali
Tari Kecak di Pura Luhur Uluwatu Bali via uluwatukecakdance.com

Senja di hari pertama saya di Bali sungguh indah, langit menyala penuh warna menginspirasi kami semua untuk segera mengambil kamera. Semua mata tertuju ke lepas laut, menyaksikan betapa dramatisnya matahari tenggelam di ujung samudra.

Sunset di Uluwatu memang terasa begitu eksotis. Tari Kecak, seni tari tradisional Bali ini dimainkan menjelang senja, menemani saya dan lainnya menyaksikan Golden Sunset yang menawan.

Terima kasih Bali.. Terima kasih Uluwatu..

*Salam

Melongok Curug Lawe Petungkriyono yang Lagi Ngetrend

Melongok Curug Lawe Petungkriyono yang Lagi Ngetrend

Saya harus jujur berkata bahwa Negeri di Atas Awan Petungkriyono memang selalu menggoda dengan bentang alamnya. Petungkriyono seolah tak berhenti menebar pesona, kali ini ada tempat wisata baru yang lagi menjadi tren di Pekalongan, Wisata Curug Lawe.

Curug Lawe Petungkriyono Pekalongan

Kemarin saya melancong ke Petungkriyono bersama istri, kebetulan dan mungkin ini memang anugerah dari Tuhan, kami memiliki hobi yang sama “Jalan-jalan“.

Setelah liburan di Jogja yang seru di akhir Agustus, September adalah bulan untuk Pacitan. Namun ternyata September terlalu sibuk dengan hujan dan longsor, kami urung kesana padahal sudah di canang jauh-jauh bulan.

Untuk mengobati hati si kecil Rara yang urung ke Pacitan, dia diajak jalan-jalan sama eyang’nya. Spontan, saya dan istri langsung kepikiran “PETUNG..!!“.

Tuhan memang begitu baik kepada kami. Pertama, sudah ada yang momongin si kecil Rara. Kedua, hari itu begitu cerah, pas banget untuk mengexplore Negeri di Atas Awan Petungkriyono.

Kebetulannya lagi, si tante Bela baru saja beli  Action CameraXiaomi Yi“, yang super keren banget fungsi dan hasil jepretannya.

Curug Lawe Petungkriyono Pekalongan
Jembatan Panjang, Karanganyar – Pekalongan

Pertama kali pake Xiaomi Yi ini hati saya langsung berbisik “Ayo beli..gak mahal kok di bukalapak masih promo!!” bener juga kemarin di Semarang harga 1 paket 1,6 juta kata si tante, lihat di bukalapak cuma 500 ribu’an.

Beruntung otak saya langsung ngerem “Jangan..masih banyak yang lebih penting !!

Menikmati Keperawanan Hutan Sokokembang

Jarak dari rumah ke Petungkriyono  sekitar 1 jam perjalanan dengan sepeda motor. Dan memang jalan-jalan ke Petungkriyono lebih enak naik motor ketimbang mobil.. (ini pendapat saya pribadi).

Segarnya udara gunung dan menikmati “keperawanan” hutan Sokokembang yang eksotis lebih terasa di jiwa dengan naik motor.

Hutan Petungkriyono Pekalongan

Di hutan Sokokembang ini saya bisa melihat kehidupan alam liarnya yang menakjubkan, memotret habitat Owa Jawa, dan menikmati bentang alamnya yang indah.

Wisata Petungkriyono Pekalongan

Hutan Sokokembang Petungkriyono

Waktu yang pas menikmati ke’elok’kan hutan Sokokembang ini antara jam 6 pagi sampai jam 10 siang. Karena apa? Habitat Owa jawa dan primata kera lainnya aktif di jam-jam tersebut. Jadi bawa kamera dan teropong’mu jika hendak kesini.

Keindahan perjalanan ke Petungkriyono sudah pernah saya tulis disini dan juga ini. Jadi sekarang langsung lanjut saja ke Curug Lawe.

Gardu Pandang Curug Lawe

Saat pulang dari Dieng Culture Festival kemarin (saya lewat jalur Wanayasa – Petungkriyono), saya baru melihat langsung kalau Curug Lawe bener-bener sedang tren di Pekalongan. Dari pintu masuk nampak tempat parkirnya sesak dengan ratusan kendaraan.

Beruntung saat saya dan istri tiba belum terlalu rame, hanya beberapa pengunjung yang sudah datang.

Lokasi Curug Lawe Petungkriyono Pekalongan

Lokasinya sangat mudah ditemukan, karena terletak di pinggir jalan satu-satunya menuju Petungkriyono, tepatnya di Desa Kasimpar.

Tiket masuknya murah banget, cuma Rp. 3.000,- / orang di tambah Rp.2.000,- untuk parkir. Jadi dengan uang 8 ribu sudah bisa menikmati keindah Curug Lawe yang eksotis.

Curug Lawe Petungkriyono Pekalongan

Pertama masuk kami di sambut hutan pinus yang sejuk, suasananya mirip seperti hutan pinus di Jogja dan Magelang yang lagi ngehits. Dekat pintu masuk, penduduk lokal diperdayakan dengan warung-warung yang menjaja aneka makanan.

Yang terasa spesial buat saya adalah “Teh Petung“. Aroma teh disini lebih wangi, beda dengan teh yang biasa saya sesap. Cita rasa Teh Petung hampir mirip dengan Teh Pagilaran yang legendaris.

Curug Lawe Petungkriyono Pekalongan

 “Bu..ini jalan sampai ke Curug Lawe’nya masih jauh?”

“Sekitar 1 jam mas..tapi kalau ke Gardu Pandangnya deket cuma 100 meter” begitu tutur ibu pemilik warung yang sangat ramah.

Kening istri saya langsung ngerenyut, saya paham apa yang ada di pikirannya. Jalan kaki selama 1 jam dengan medan naik turun jalan setapak.

Lantas saya dan istri bersepakat hanya akan sampai ke Gardu Pandangnya saja, toh pasti pemandangannya juga bakal memuaskan.

Curug Lawe Petungkriyono Pekalongan

Jalan setapak menuju gardu pandang 1 arah ke Curug Muncar, sepanjang jalan kami melewati hutan pinus dengan landskap beberapa air terjun yang indah. Di hutan pinus ter sebut juga ada wahana hammock, kamu bisa bersantai sejenak disitu sambil menikmati segarnya udara Petungkriyono.

Sekitar kurang lebih 15 menit menuruni jalan setapak, saya dan istri sampai di gardu pandang yang kami tuju. Saya dibuat cengang dengan keindahan alam yang nampak dari gardu pandang ini.

Curug Lawe Petungkriyono Pekalongan

Curug Lawe Petungkriyono Pekalongan

Curug Lawe Petungkriyono Pekalongan

Curug Lawe Petungkriyono Pekalongan

Ada 3 gardu pandang yang layak kamu coba jika melancong kesini, ketinggiannya lumayan bikin merinding. Soal panoramanya indah banget !

Keindahan alam Petungkriyono memang tak ada dua’nya, bentang alamnya selalu membuat rindu. Dan saya masih penasaran dengan Curug Lawe’nya.

Jadi, kapan kamu kesini??

*Salam

Catatan Dieng Culture Festival 2016 #2

Catatan Dieng Culture Festival 2016 #2

Jam di Smartphone saya menunjuk angka 00.49, namun riuh penonton masih saja ramai meski gelaran jazz atas awan sudah rampung. Lampion-lampion pun masih terus membubung, seakan tak rela jika malam yang indah ini akan segera berakhir.

Panta, teman berjalan saya berkata ” Ayo lekas ke Homestay, esok subuh kita naik ke Skoter !! “.

Saya kembali membuka smartphone, benar esok Agenda Dieng Culture Festival adalah Menyaksikan Sunrise di Bukit Skoter lalu di lanjut Kirab Budaya dan Jamasan Rambut Anak Gembel.

Bukit Skoter

Homestay kami terletak tidak jauh dari kawasan candi arjuna, tempat di gelarnya jazz atas awan dan seribu lampion. Dalam hitungan menit saya sudah sampai di homestay dengan berjalan kaki.

Hawa dingin semakin menusuk.. meski sudah di dalam homestay dan berbalut selimut tebal rangkap dua namun belum cukup melawan dinginnya malam di dataran tinggi dieng ini.

Mungkin suhu di dieng tidak lagi 2 derajat, mungkin sudah minus entah berapa derajat..

Saat kabut subuh masih membalut desa dieng kulon, saya bergegas menaiki jalan setapak menuju Bukit Skoter. Bukit ini terletak di sebelah utara kawasan candi arjuna, ketinggiannya kira-kira 2200 mdpl.

wp-1472020586256.jpeg

Bukit Skoter adalah lukisan Tuhan yang begitu menakjubkan.. Saat menjelang subuh, selimut kabut terlihat jelas menutupi Desa Dieng Kulon yang masih tertidur lelap. Gunung Sindoro di kejauhan menambah indahnya Lanskap dari bukit ini.

Bagi penggemar fotografi, bukit skoter adalah surga. Tempat dimana para pelukis cahaya ini bisa menangkap panorama-panorama indah dari sini.

Bukit Scooter

Tak hanya Gunung Sindoro, jika cuaca cerah dan tak berkabut, bentangan laut utara jawa bisa dilihat dengan mata telanjang.

Selain itu, dari atas bukit ini kamu juga bisa melihat indahnya  Gunung Pangonan, Gunung Pakuwaja, Gunung Prau, Gunung Bisma, Gunung Sipandu, Candi Arjuna, Candi Gatotkaca, dan Candi Bima.

Selesai di bukit Skoter, lantas saya kembali ke homestay, sarapan lalu melihat arak-arakan budaya.

Kirab Budaya

Pagi di dieng jalanan sudah mulai rame dan udara di dieng pun masih tetap dingin. Di pinggiran jalan banyak penjual bubur, soto, mie ongklok, dan sate ayam yang berjejer, Dieng Culutere Festival membawa berkah dan rezeki tersendiri untuk para penjaja makanan itu.

Jalanan semakin sesak, saat rombongan kirab budaya mulai melintas di jalan utama dieng.

Gelar budaya dieng

Kirab budaya merupakan prosesi yang harus dilakukan sebelum mencukur anak berambut gembel. Arak-arakan budaya ini dimulai dari rumah tetua adat, lalu berkeliling kampung dan berakhir di candi arjuna.

Arjuna DCF2016

Iring-iringan budaya ini berlangsung hampir satu jam, diikuti oleh beberapa rombongan kesenian yang merepresentasikan budaya jawa yang Adiluhung . Musik dan tarian tradisional membuat acara ini semakin semarak.

Gelar Budaya Dieng Culture Festival

Jamasan Rambut Gembel

Tiba di komplek Candi Arjuna sudah sesak, ribuan wisatawan memenuhi pelataran candi arjuna tempat di gelarnya acara puncak yaitu pemotongan rambut gembel.

Prosesi Pemotongan Rambut Gembel di Dieng Culture Festival

Mungkin tahun depan saya harus datang lebih awal lagi, ketika sudah sesak begini, rasanya malas untuk merangsek ke depan. Menyaksikan dari jauh pun kurang memuaskan.

Tetapi buat saya, Dieng Culture Festival 2016 ini memberikan rasa dan pengalaman tersendiri yang mungkin tak kan terlupakan. Keindahan alamnya.. Hawa dinginnya.. Budayanya.. Pertunjukan Jazz & Lampionnya.. Sungguh Luar Biasa !!

Bagaimana dengan pengalaman kamu di DCF 2016?? Tulis di kolom komentar ya :}

 

Catatan Dieng Culture Festival 2016

Catatan Dieng Culture Festival 2016

Pesona alam dataran tinggi dieng memang begitu indah.. butuh sejuta kata untuk melukiskannya. Dan catatan ini adalah bagian terkecil dari keindahannya.

Tanggal 6 – 7 Agustus kemarin, saya beruntung bisa menyaksikan Dieng Culture Festival 2016 yang di selenggarakan di Dieng.  Meski sebetulnya acara gelar budaya ini sudah di mulai sejak tanggal 5 agustus 2016.

DCF2016

Dieng Culture Festival merupakan acara rutin tahunan, dan tahun 2016 ini merupakan tahun ke – 7 (tujuh) di gelarnya festival budaya ini. Tahun ini mengusung tema “The Soul of Culture“.

Festival budaya di dieng ini menyuguhkan kearifan budaya lokal yang dipadukan dengan gagasan sadar wisata sehingga menjadi gelaran budaya yang mampu menyuguhkan berbagai tontonan yang apik.

Dieng Culture Festival

Adanya perpaduan antara seni tradisi, budaya, dan musik modern membuat festival ini lebih berkelas.

Tiket presale Dieng Culture Festival tahun 2016 ini di jual dengan harga 250 ribu rupiah yang bisa di beli secara online di situs dieng.id, sedangkan untuk pembelian on the spot di lokasi tiket dikenakan biaya 350 ribu rupiah.

Selama 3 hari gelar budaya ini banyak sekali rangkain acaranya,  mulai dari penampilan Cak Nun & Kyai Kanjeng, Festival Film, Pertunjukan Seni, Scooter Fun Trekking, Jazz Atas Awan, Lampion, hingga Ruwat Rambut Gembel.

Senandung Jazz Atas Awan

Buat saya pribadi, gelaran Jazz Atas Awan & Lampion lah yang paling istimewa. Acara ini di selenggarakan malam hari di Panggung Kailasa dengan titik suhu hingga 2° celcius. Dieng bener-bener dingin banget malem itu..

Gelaran Jazz Atas Awan sendiri merupakan gelaran ke-4 yang diselenggarakan di Dieng Culture Festival. Dan untuk tahun ini di selenggarakan 2x, tanggal 5 dan 6 agustus 2016.

Sampai sekarang pun saya masih terngiang-ngiang bagaimana @duniamanji (Anji) solois ternama dari jakarta ini melantunkan lagu-lagu melo dengan apiknya.

Duniamanji

Ooh tuhan..  Ku cinta dia..  Ku sayang dia..  Rindu dia..  Inginkan dia..
Utuhkanlah... Rasa cinta di hatiku.. Hanya padanya.. Untuk dia..

Merinding..!!

Saat semua penonton dibawa dengan kompaknya untuk menyanyikan lagu “Dia“. Lagu yang seakan menggiring kita semua untuk ikut merasakan betapa bahagianya saat kita menemukan kembali cinta yang telah hilang.

Saat menulis artikel ini, tak luput lagu “Dia” mengiringi. Seakan saya masih berada di tengah-tengah penonton jazz atas awan. Masih bernyanyi dengan ribuan penonton lainnya.. Ooh..jarak memang selalu membuat rindu..

Mus Mujiono

Selain Duniamanji beberapa musisi jazz ikut memeriahkan gelaran Jazz Atas Awan 2016 ini. Salah satunya yang tak asing lagi di dunia musik Jazz Indonesia yaitu Mus Mujiono (Nono) atau yang biasa di juluki George Benson‘nya Indonesia.

Seribu Lampion

Pagelaran Jazz atas awan ini semakin terasa romantis, saat ribuan lampion terbang membawa sejuta harapan peserta Dieng Culture Festival. Langit dieng menjadi panorama yang sangat indah malam itu.

Lampion

Ada 15 ribu letusan kembang api, ada ribuan lampion membumbung tinggi. Mereka beradu melukis langit negeri para dewa ini dengan sinar-sinarnya yang mempesona.

Gemuruh petasan sempat mengganggu penampilan Mus Mujiono, alangkah eloknya jika petasan ini di gelar di akhir acara. Namun romantisme dieng tetaplah yang terbaik, rugi jika kalian belum kesini.

Seribu Lampion

Malam seribu lampion ini  merupakan malam yang tak terlupakan keindahannya. Gak sabar nunggu festival ini tahun depan.

Hari pertama yang indah, terima kasih dieng.. terima kasih untuk semua panitia Dieng Culture Felstival 2016 untuk suguhannya yang mempesona.

Catatan Hari ke 2 di Dieng Culture Felstival 2016

Keliling Jawa Tengah

Keliling Jawa Tengah

Ini cerita perjalanan saya keliling Jawa Tengah bersama temen-temen SMA, mengisi liburan di awal bulan Mei 2016.

Perjalanan berangkat dari Kota Kajen, kota yang amat santai di sebelah selatan Kota Pekalongan, disinilah perjalanan bermula. Dengan Suzuki Ertiga saya dan teman-teman menjelajah jalanan jawa tengah selama 2 hari.

Maps Jawa Tengah
Rute Kami saat Mengelilingi Provinsi Jawa Tengah

Hari ke I ; Pekalongan – Purbalingga – Purwokerto

Rute dari Pekalongan ke Purwokerto memiliki trek jalan yang menantang, didominasi kawasan pegunungan dengan jalan naik turun serta berkelok, namun memiliki pemandangan yang aduhai indahnya.

Perbatasan Kabupaten Pemalang dengan Kabupaten Purbalingga.
Perbatasan Kabupaten Pemalang dengan Kabupaten Purbalingga.

Bagi saya pribadi, overland adalah jenis perjalanan yang paling saya sukai. Perjalanan darat memberikan kesan lebih dalam dan cerita lebih banyak.

Rute Pekalongan – Purwokerto :

Kajen – Randudongkal – Belik – Purbalingga – Purwokerto

Ada Tiongkok di Purbalingga

Memasuki wilayah purbalingga kami singgah di bangunan bernuansa merah dengan ornamen rumit khas negeri tirai bambu, saya merasa berada di negeri Tiongkok sana walaupun sebenarnya saya berada di daerah Purbalingga.

Masjid Mohammad Cheng Hoo adalah bangunan bersejarah di Purbalingga dan satu-satunya masjid yang bergaya cina di purbalingga. Masjid ini terletak di desa Selaganggeng Kecamatan Mrebet Kabupaten Purbalingga.

Masjid Cheng Hoo Purbalingga
Masjid Cheng Hoo di Purbalingga

Bangunannya di dominasi warna merah, warna khas bangsa cina. Memang, merah adalah warna yang dicintai orang-orang keturunan Tiongkok, konon warna ini adalah warna berkah, warna keberuntungan.

Alun-alun Purbalingga

Setelah shalat magrib kami melanjutkan perjalanan, dari masjid cheng hoo kami menuju pusat kota purbalingga.

Kota yang majemuk, orang-orang yang datang dan pergi, menetap dan tinggal membuat Purbalingga menjadi kota yang kaya ragam budaya, termasuk kuliner.

Purbalingga memiliki kekayaan kuliner yang beragam, salah satu tempat yang rame bahkan orang-orang rela berjubelan untuk antri makan adalah di alun-alun purbalingga.

Hampir semua tempat makan disini penuh, kami memutari alun-alun mencari sajian kuliner yang menggoda selera. Rica-rica mentog ( itik serati) akhirnya menjadi pilihan kami, di tambah sate kambing untuk menghangatkan tubuh.

alun2 purbalingga
Rica itik serati + sate kambing

Romantisme malam di Puerto Rico 

Purwokerto adalah impian banyak pejalan baik dari indonesia maupun luar negeri, kotanya ramah dan malamnya menyuguhkan romanstisme yang membuat orang-orang berduyun-duyun datang kemari.

Puerto Rico
Salah satu sudut kota purwokerto

Meski bukan kali pertama, tapi saya terkejut dengan gemerlap malam kota purwokerto. Dalam benak purwokerto tidak jauh berbeda dengan kota-kota kecil lainnya di jawa tengah, tapi ternyata purwokerto tidak kalah dengan semarang dan solo.

Gedung-gedung tinggi metropolis berjajar kokoh di sepanjang jalan arteri kota ini, selain sebagai kota bisnis, purwokerto juga banyak di kunjungi karena destinasi wisatanya. Beberapa destinasi wisata ada disini, salah satu yang paling terkenal adalah Baturaden. 

Awalnya kami ingin bermalam di baturaden, menikmati dinginnya malam disana. Namun karena suatu hal kami harus langsung ke Banyumas.

Memadu kasih di Banyumas

Menuju banyumas, laju mobil mulai di pandu oleh GPS, meski sering berdebat saat membaca GPS tetapi alhamdulillah kami bisa sampai di Banyumas.

Satu temen kami mempunyai urusan di banyumas ini, dia berkenalan dengan gadis di jakarta lalu membuat janji di kota ini..aduhai romantisnya mereka.

Biarkan mereka memadu kasih, saya dan lainnya segera mencari hotel. Kami menggunakan aplikasi Traveloka, aplikasi ini sangat membantu menemukan banyak pilihan hotel atau penginapan di banyumas dengan beragam harga dan fasilitas yang ditawarkan.

Hari pertama perjalanan selesai, waktunya istirahat…

Hari ke II ; Banyumas – Cilacap – Kebumen – Jogja

IMG_20160506_091536
Siap-siap lanjutkan perjalanan

Dari banyumas perjalanan menuju ke Kebumen. Etape ini bisa dikatakan perjalanan dari gunung menuju laut. Meninggalkan banyumas yang sibuk menempuh jalur selatan menuju kota di tepi Samudera Hindia yang eksotis.

Sebelum menikmati samuderanya yang indah, kami sempatkan mampir di Desa Jatijajar. Di desa ini terdapat Goa Jatijajar, konon nama goa ini di ambil dari 2 pohon jati yang berjajar di mulut goa.

Goa Jatijajar
Perlu tenaga ekstra menuju goa jatijajar
goa kebumen
Pintu masuk goa

Di dalam goa terdapat diarama, keseleruhannya mengisahkan tentang Legenda Lutung Kasarung. Konon goa ini di gunakan untuk bertapa oleh pangeran dari kerajaan Padjajaran yaitu Raden Kamandaka (Lutung Kasarung).

Perlu diketahui sebagian wilayah Kabupaten Kebumen dulunya merupakan wilayah dari Kerajaan Padjajaran yang berpusat di batutulis – bogor.

diarama
Stalagmit

Jayamenawi adalah seorang petani yang menemukan goa jatijajar pada tahun 1802. Dan Bupati Ambal yang memberikan nama goa ini dengan nama Goa Jatijajar karena melihat ada dua pohon jati yang berjajar di mulut goa.

Dari Kecamatan Ayah ini, perjalanan di lanjutkan ke Cilacap. Menelusuri barisan pantai-pantai yang indah di selatan pulau jawa.

Di Cilacap kami hanya sebentar, tidak sempat menapakan kaki.

Pantai Menganti – Kecamatan Ayah

Menuju kembali ke arah timur , kami memasuki kabuputen kebumen lagi. Pantai Menganti menyapa kami dengan deburan ombaknya yang riuh memecah teriknya sinar matahari yang menyengat.

pantai menganti kebumen
Pantai Menganti

Pantai Menganti seperti tempat yang sempurna untuk melepas penat, menikmati Menganti adalah perihal menikmati kedamaian.

Jika kita memandang pantai maka ada laut lepas yang indah, jika kita memandang gunung, maka gunung tinggi nan hijau melambai lambai menyapa kita. Menganti adalah karya Tuhan yang mempesona.

Menelusuri Pantai Selatan Jawa

Setiap jengkal indonesia adalah pesona, begitu pun dengan pantai selatan jawa. Perjalanan kami selanjutnya menikmati indahnya pantai di sepanjang pesisir pulau jawa dari atas bukit-bukit yang kami lewati, dari menganti hingga Kota Yogyakarta.

Jalur menganti jogja
Trek Pantai Menganti – Yogyakarta

Selepas dari menganti ada pantai-pantai indah yang berjajar, ada Pantai Karangbata, Pantai Pecaron, Pantai Sumarnis, Pantai Tanjung Bata, Pantai Karang Bolong, Pantai Suwuk, Pantai Petanahan, dan masih banyak pantai-pantai yang lain yang tak kalah indah.

Trek kali ini lebih berat, jalan sempit, aspal yang mulai rusak serta tanjakannya curam dan menantang, namun pemandangan pantainya begitu menakjubkan..aduhai begitu indahnya karya tuhan untuk kebumen.

Pantai Menganti
Pantai Selatan Jawa

Setelah 4 jam perjalanan akhirnya kami sampai di kota gudeg jogjakarta, Malioboro menyambut kami dengan hangat.

Raminten Sego Segawe

Jogja tidak ada dua’nya di dunia !!

Begitu pun dengan kulinernya yang legendaris, belum ke jogja jika belum makan di Raminten. Begitu teriak anak-anak muda jogja di media sosial.

House-Of-Raminten
House of Raminten – Jogjakarta

Memang benar, butuh 2 jam untuk mengantri masuk ke resto ini. Dan perlu waktu 1 jam untuk menunggu pesanan kita di anter oleh mba-mba’nya yang cantik dengan setelan pakaian kemben khas jawa banget.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Slogan nyleneh

Tidak hanya slogannya yang nyleneh, nama-nama menu makanannya pun unik. Ada Es Perawan Tancep, Susu Putih Mulus, Ayam Koteka, dan Es Monster.

Sebelum makan kita akan di daftar dulu untuk memesan tempat, beginalah kuliner legendaris mesti sabar dan butuh perjuangan.

“Kuliner legendaris memang pantas ditunggu, pantas berkorban waktu.”

 

antri raminten
Antrian di Raminten

Suasana jawa’nya begitu kental, alunan gending jawa mengalun tanpa henti di tambah aroma dupa’nya yang menyengat di semua sudut resto ini.

raminten jogja
Konsep Jawa

Raminten kota baru

Jam 12 malam setelah semuanya selesai di Raminten, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Pekalongan.

Inilah perjalanan yang tak akan terlupakan, perjalanan syarat akan kenangan dengan sahabat-sahabat tercinta.

Sesekali waktu cobalah overland jawa tengah, sensasinya tidak akan terlupakan oleh mata dan hati.

 

Berlayar ke Pulau Nusa Penida yang eksotis

Berlayar ke Pulau Nusa Penida yang eksotis

Saat liburan ke pulau bali gak harus selalu ke pantai kute, GWK, bedugul, maupun ke Pure tanah lot yang sudah terlalu mainstrem. Nusa Penida layak menjadi pilihan destinasi yang wajib disambangi saat liburan ke pulau dewata.

nusa penida beach
Selamat datang di Pulau Nusa Penida yang eksotis

Bulan Agustus 2015 rasanya menjadi bulan yang sangat istimewa, mendapat kesempatan untuk berlibur ke Nusa Penida Bali. Lanjutkan membaca →

Weloriver Pekalongan : Dari Derasnya Arus Hingga Cliff Jumping yang Menantang

Weloriver Pekalongan : Dari Derasnya Arus Hingga Cliff Jumping yang Menantang

“Hidup adalah tentang berani bertualang atau tidak sama sekali”

Saat butuh liburan yang gak mainstream.. rasanya Petungkriyono adalah tempat yang pas untuk dituju.

Selain tentang keindahan alamnya yang menakjubkan serta destinasi wisata seperti Curug Bajing dan Curug Muncar yang telah terlebih dahalu terkenal, ternyata ada satu destinasi alam yang baru di Kecamatan Petungkriyono.

Destinasi alam yang satu ini tidak hanya menyuguhkan panorama alam yang eksotis, namun juga bisa menjadi sarana untuk menguji adrenalin kamu.

Bareng sahabat-sahabat semasa SMA, kami berlima pada hari minggu 24 januari 2016 kemarin mengeksplore keindahan alam di sungai welo petungkriyono.. Mencoba River tubing di sungi welo ternyata memang sungguh sangat menakjubkan !!!

Hidup adalah tentang berani bertualang atau tidak sama sekali !!
Hidup adalah tentang berani bertualang atau tidak sama sekali !!

Lanjutkan membaca →

7 Destinasi Wisata Terbaik di Indonesia Ini Bakal Menginspirasi Perjalanan Kamu di 2016

7 Destinasi Wisata Terbaik di Indonesia Ini Bakal Menginspirasi Perjalanan Kamu di 2016

Berikut beberapa destinasi wisata di Indonesia yang bisa menginspirasi perjalanan kamu di tahun ini;

1. Eksotisme Pulau Morotai, mutiara di bibir pasifik yang sangat menawan.

Berkunjunglah ke Pulau Morotai ..Disini kamu bakal takjub dengan pesona pantai-pantainya yang sangat  indah.

Keindahan pantai pulau morotai sungguh luar biasa mempesonanya, sulit untuk menggambarkan betapa indahnya pesona bahari di pulau morotai melalui tulisan ini.

Setidaknya melalui beberapa foto ini kamu bisa merasakan betapa indahnya pantai-pantai di pulau yang menyandang sebutan “East Indonesia Paradise” ini.

Lanjutkan membaca →

%d blogger menyukai ini: