Catatan Dieng Culture Festival 2016 #2

Catatan Dieng Culture Festival 2016 #2

Jam di Smartphone saya menunjuk angka 00.49, namun riuh penonton masih saja ramai meski gelaran jazz atas awan sudah rampung. Lampion-lampion pun masih terus membubung, seakan tak rela jika malam yang indah ini akan segera berakhir.

Panta, teman berjalan saya berkata ” Ayo lekas ke Homestay, esok subuh kita naik ke Skoter !! “.

Saya kembali membuka smartphone, benar esok Agenda Dieng Culture Festival adalah Menyaksikan Sunrise di Bukit Skoter lalu di lanjut Kirab Budaya dan Jamasan Rambut Anak Gembel.

Bukit Skoter

Homestay kami terletak tidak jauh dari kawasan candi arjuna, tempat di gelarnya jazz atas awan dan seribu lampion. Dalam hitungan menit saya sudah sampai di homestay dengan berjalan kaki.

Hawa dingin semakin menusuk.. meski sudah di dalam homestay dan berbalut selimut tebal rangkap dua namun belum cukup melawan dinginnya malam di dataran tinggi dieng ini.

Mungkin suhu di dieng tidak lagi 2 derajat, mungkin sudah minus entah berapa derajat..

Saat kabut subuh masih membalut desa dieng kulon, saya bergegas menaiki jalan setapak menuju Bukit Skoter. Bukit ini terletak di sebelah utara kawasan candi arjuna, ketinggiannya kira-kira 2200 mdpl.

wp-1472020586256.jpeg

Bukit Skoter adalah lukisan Tuhan yang begitu menakjubkan.. Saat menjelang subuh, selimut kabut terlihat jelas menutupi Desa Dieng Kulon yang masih tertidur lelap. Gunung Sindoro di kejauhan menambah indahnya Lanskap dari bukit ini.

Bagi penggemar fotografi, bukit skoter adalah surga. Tempat dimana para pelukis cahaya ini bisa menangkap panorama-panorama indah dari sini.

Bukit Scooter

Tak hanya Gunung Sindoro, jika cuaca cerah dan tak berkabut, bentangan laut utara jawa bisa dilihat dengan mata telanjang.

Selain itu, dari atas bukit ini kamu juga bisa melihat indahnya  Gunung Pangonan, Gunung Pakuwaja, Gunung Prau, Gunung Bisma, Gunung Sipandu, Candi Arjuna, Candi Gatotkaca, dan Candi Bima.

Selesai di bukit Skoter, lantas saya kembali ke homestay, sarapan lalu melihat arak-arakan budaya.

Kirab Budaya

Pagi di dieng jalanan sudah mulai rame dan udara di dieng pun masih tetap dingin. Di pinggiran jalan banyak penjual bubur, soto, mie ongklok, dan sate ayam yang berjejer, Dieng Culutere Festival membawa berkah dan rezeki tersendiri untuk para penjaja makanan itu.

Jalanan semakin sesak, saat rombongan kirab budaya mulai melintas di jalan utama dieng.

Gelar budaya dieng

Kirab budaya merupakan prosesi yang harus dilakukan sebelum mencukur anak berambut gembel. Arak-arakan budaya ini dimulai dari rumah tetua adat, lalu berkeliling kampung dan berakhir di candi arjuna.

Arjuna DCF2016

Iring-iringan budaya ini berlangsung hampir satu jam, diikuti oleh beberapa rombongan kesenian yang merepresentasikan budaya jawa yang Adiluhung . Musik dan tarian tradisional membuat acara ini semakin semarak.

Gelar Budaya Dieng Culture Festival

Jamasan Rambut Gembel

Tiba di komplek Candi Arjuna sudah sesak, ribuan wisatawan memenuhi pelataran candi arjuna tempat di gelarnya acara puncak yaitu pemotongan rambut gembel.

Prosesi Pemotongan Rambut Gembel di Dieng Culture Festival

Mungkin tahun depan saya harus datang lebih awal lagi, ketika sudah sesak begini, rasanya malas untuk merangsek ke depan. Menyaksikan dari jauh pun kurang memuaskan.

Tetapi buat saya, Dieng Culture Festival 2016 ini memberikan rasa dan pengalaman tersendiri yang mungkin tak kan terlupakan. Keindahan alamnya.. Hawa dinginnya.. Budayanya.. Pertunjukan Jazz & Lampionnya.. Sungguh Luar Biasa !!

Bagaimana dengan pengalaman kamu di DCF 2016?? Tulis di kolom komentar ya :}

 

Catatan Dieng Culture Festival 2016

Catatan Dieng Culture Festival 2016

Pesona alam dataran tinggi dieng memang begitu indah.. butuh sejuta kata untuk melukiskannya. Dan catatan ini adalah bagian terkecil dari keindahannya.

Tanggal 6 – 7 Agustus kemarin, saya beruntung bisa menyaksikan Dieng Culture Festival 2016 yang di selenggarakan di Dieng.  Meski sebetulnya acara gelar budaya ini sudah di mulai sejak tanggal 5 agustus 2016.

DCF2016

Dieng Culture Festival merupakan acara rutin tahunan, dan tahun 2016 ini merupakan tahun ke – 7 (tujuh) di gelarnya festival budaya ini. Tahun ini mengusung tema “The Soul of Culture“.

Festival budaya di dieng ini menyuguhkan kearifan budaya lokal yang dipadukan dengan gagasan sadar wisata sehingga menjadi gelaran budaya yang mampu menyuguhkan berbagai tontonan yang apik.

Dieng Culture Festival

Adanya perpaduan antara seni tradisi, budaya, dan musik modern membuat festival ini lebih berkelas.

Tiket presale Dieng Culture Festival tahun 2016 ini di jual dengan harga 250 ribu rupiah yang bisa di beli secara online di situs dieng.id, sedangkan untuk pembelian on the spot di lokasi tiket dikenakan biaya 350 ribu rupiah.

Selama 3 hari gelar budaya ini banyak sekali rangkain acaranya,  mulai dari penampilan Cak Nun & Kyai Kanjeng, Festival Film, Pertunjukan Seni, Scooter Fun Trekking, Jazz Atas Awan, Lampion, hingga Ruwat Rambut Gembel.

Senandung Jazz Atas Awan

Buat saya pribadi, gelaran Jazz Atas Awan & Lampion lah yang paling istimewa. Acara ini di selenggarakan malam hari di Panggung Kailasa dengan titik suhu hingga 2° celcius. Dieng bener-bener dingin banget malem itu..

Gelaran Jazz Atas Awan sendiri merupakan gelaran ke-4 yang diselenggarakan di Dieng Culture Festival. Dan untuk tahun ini di selenggarakan 2x, tanggal 5 dan 6 agustus 2016.

Sampai sekarang pun saya masih terngiang-ngiang bagaimana @duniamanji (Anji) solois ternama dari jakarta ini melantunkan lagu-lagu melo dengan apiknya.

Duniamanji

Ooh tuhan..  Ku cinta dia..  Ku sayang dia..  Rindu dia..  Inginkan dia..
Utuhkanlah... Rasa cinta di hatiku.. Hanya padanya.. Untuk dia..

Merinding..!!

Saat semua penonton dibawa dengan kompaknya untuk menyanyikan lagu “Dia“. Lagu yang seakan menggiring kita semua untuk ikut merasakan betapa bahagianya saat kita menemukan kembali cinta yang telah hilang.

Saat menulis artikel ini, tak luput lagu “Dia” mengiringi. Seakan saya masih berada di tengah-tengah penonton jazz atas awan. Masih bernyanyi dengan ribuan penonton lainnya.. Ooh..jarak memang selalu membuat rindu..

Mus Mujiono

Selain Duniamanji beberapa musisi jazz ikut memeriahkan gelaran Jazz Atas Awan 2016 ini. Salah satunya yang tak asing lagi di dunia musik Jazz Indonesia yaitu Mus Mujiono (Nono) atau yang biasa di juluki George Benson‘nya Indonesia.

Seribu Lampion

Pagelaran Jazz atas awan ini semakin terasa romantis, saat ribuan lampion terbang membawa sejuta harapan peserta Dieng Culture Festival. Langit dieng menjadi panorama yang sangat indah malam itu.

Lampion

Ada 15 ribu letusan kembang api, ada ribuan lampion membumbung tinggi. Mereka beradu melukis langit negeri para dewa ini dengan sinar-sinarnya yang mempesona.

Gemuruh petasan sempat mengganggu penampilan Mus Mujiono, alangkah eloknya jika petasan ini di gelar di akhir acara. Namun romantisme dieng tetaplah yang terbaik, rugi jika kalian belum kesini.

Seribu Lampion

Malam seribu lampion ini  merupakan malam yang tak terlupakan keindahannya. Gak sabar nunggu festival ini tahun depan.

Hari pertama yang indah, terima kasih dieng.. terima kasih untuk semua panitia Dieng Culture Felstival 2016 untuk suguhannya yang mempesona.

Catatan Hari ke 2 di Dieng Culture Felstival 2016

%d blogger menyukai ini: